Tampilkan postingan dengan label Be Grateful. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Be Grateful. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Oktober 2012

Tentang Introspeksi, kultwit dari @noveldy 04102012, #lari







1. Trs menyalahkan org lain, mrs diri plg benar, selalu memutarbalikkan fakta, #lari dr tgg jawab & berharap keadaan jd lebih baik? *hiks

2. Kita bs teriak ke slrh dunia, kl kita ingin memperbaiki diri. Sdh cek perilaku kita sehari2? Siapa yg sdg kita cb utk bohongi? #lari

3. Byk yg tdk sadar, kl dirinya termasuk gol yg menikmati penderitaan #lari

4. Dan dia smkn terlatih memainkan dirinya sbg korban. Ternyata menjadi korban itu "nikmat" #lari

5. Hati2 selalu memainkan peran sbg korban, menolak bertanggung jawab... Pd akhirnya terjebak dlm 'realita' yg diciptakannya sndr #lari

6. Hati2, saat 'realita' ciptaan tsb sdh sngt masuk ke dalam diri seseorang, ybs bisa terjebak di sana. Sadarkah apa artinya? #lari

7. Pernah liat org yg hidup dlm 'realitanya' sndr? Suka nangis sndr, suka senyum sndr, suka marah2 sndr? #lari

8. Byk orang, saking bencinya kpd seseorang, yg tjd malah dirinya MENJADI orang yg dibencinya tsb #lari

9. Trs bermain di pinggir jurang, menolak uluran tangan utk menjauh dr jurang, resikonya jatuh terhempas ke dasar jurang #lari

10. Berharaplah Allah msh sayang kpd kita, msh melindungi kita. Trs menerus 'menantang'nya? Kira2 apa yg bs terjadi? #lari

11. 'Beruntung' kl masih dpt teguran. Teguran ringan tdk mempan? Bersiaplah dpt teguran keras... Tdk mempan, siap2 'digampar' #lari

12. Celakalah saat Allah sdh MEMBIARKAN kita... Astaghfirullah... #lari

13. Saat semua pihak sdh disalahkan, dan hati ttp mrs belum puas, tinggal 1 yg belum disalahkan... Allah. Na'udzubillaah #lari

14. Smg sharing saya ttg #lari bs memberi manfaat tweeps... Mhn maaf jk ada yg krg berkenan. 
  

 


Minggu, 27 Februari 2011

Enhance Your Relationship




Hidup yang bermakna adalah cerminan kualitas hubungan-hubungan Anda. Jadi mulailah untuk meningkatkan mutu hubungan Anda sekarang juga... 

Membina sebuah hubungan, baik dengan keluarga, teman, pasangan, atau dengan kolega, tidaklah mudah. Untuk menciptakan hubungan yang berkualitas, dibutuhkan usaha keras yang penuh komitmen dan tak kenal lelah dari kedua belah pihak. Banyak halangan yang terkadang menghadang keharmonisan. Perkelahian, salah paham, rasa curiga, cemburu dan keegoisan masing - masing pribadi menjadi permasalahan yang bila tidak diselesaikan dengan segera, akan berkembang menjadi bibit pertikaian yang kian lama kian membesar. 

Mempertahankan suatu hubungan yang sehat, baik dari segi interaksi maupun lama jangka waktunya bukanlah hal yang mustahil. Walau tidak mudah, telah banyak orang yang berhasil membuktikannya. Apa rahasianya? Jawabannya adalah kerja keras. Di mana masing - masing pihak memilih dan memutuskan untuk mempertahankan hubungan tersebut, dan menolak dikalahkan oleh hal - hal yang mungkin merusaknya. 

Dengan memilih untuk bertahan, dan memutuskan untuk berkomitmen, hubungan akan terus bertahan di masa - masa sulit. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk memperkuat kualitas hubungan yang Anda miliki. Ini beberapa yang bisa Anda lakukan untuk membangun, memperkuat, dan mempertahankan sebuah hubungan dengan pasangan, sahabat, rekan kerja, dan anak - anak Anda.


Menjadi pasangan yang commited
Monica Kumalasari dan Melanie Omar Miski dalam bukunya Incredible Me, Change Yourself Before Your Change Others menyebutkan, pernikahan merupakan bentuk relasi yang unik. Perkawinan adalah persatuan dua orang yang berbagi tujuan bersama untuk kebaikan bersama. Berikut hal - hal yang dapat meningkatkan kualitas hubungan Anda dengan pasangan:
  • Menciptakan quality time. Dengan aktivitas harian yang begitu cepat dan sibuk, keintiman antar pasangan mudah saja terurai dengan perlahan. Sempatkanlah untuk meluangkan waktu yang berkualitas dengan pasangan Anda. Dengan sengaja menciptakan momen bersama, segala permasalahan bisa dibagi, segala ganjalan bisa dikeluarkan, dan segala kesalahpahaman bisa diluruskan. 
  • Berlatih memaafkan. Obat paling manjur untuk mempertahankan sebuah hubungan yang berkualitas adalah kemampuan untuk saling memaafkan. Bila Anda mampu memberi maaf, kenyataannya, bukan hanya dendam dan kekesalan yang hilang, tapi juga datangnya kebebasan dan kedamaian di dalam diri Anda. 
  • Hubungan yang seimbang. Seiring berjalannya waktu, hubungan seringkali menjadi hambar, bahkan mati, karena satu pihak berusaha mendominasi pasangannya. Saat memutuskan untuk membina sebuah hubungan, seringkali Anda berharap memaksakan pendapat sebagai harapan untuk merubah pasangan. Pepatah Cina mengatakan, "It is easier to reshape a mountain or a river than a person's character". Jadi buang jauh - jauh ekspektasi Anda, agar tidak berbuntut pada kekecewaan.


Menjadi sahabat yang tak lekang waktu
Teman sejati bagaikan permata, jarang ditemukan namun indahnya tak lekang oleh waktu. Adalah suatu hal yang tragis, jikalau teman sejati sudah didapat, namun persahabatan perlahan hilang ditelan waktu dan kesibukan. Sama halnya seperti jenis hubungan - hubungan lain, kunci dari persahabatan sejati yang bertahan sepanjang hidup adalah perhatian, komitmen, dan kebesaran hati untuk membiarkan satu sama lain bertumbuh. 
  • Jangan menyeimbangkan persahabatan layaknya buku cek. Tidak ada teman yang sama, masing - masing sahabat memiliki keunikannya masing - masing dan menyumbang kontribusi yang berbeda - beda bagi hidup Anda. Cintai teman dan sahabat Anda seperti mereka apa adanya. Jangan paksakan suatu kewajiban apapun dari mereka untuk menyenangkan Anda. Jangan pula berharap akan pamrih. Persahabatan yang berkualitas adalah persahabatan yang saling memberi. 
  • Buatlah mereka merasa penting di hati Anda. Secara alamiah, setiap manusia selalu berharap untuk diperhatikan dan diistimewakan, lebih daripada orang lain. Manusia juga merasakan kesenangan apabila didukung pendapatnya. Cara terbaik untuk meningkatkan kualitas hubungan dengan teman adalah dengan mendukung mereka, baik di saat senang, dan terutama di saat sulit. 
  • Utamakan tali silaturahmi. Salah satu ujian terbesar dalam sebuah persahabatan adalah bagaimana mempertahankan hubungan yang sama intensnya saat terpisahkan oleh jarak. Manfaatkanlah kecanggihan teknologi dan alat komunikasi. Bangun tali silaturahmi dengan cara - cara sesimpel menanyakan kabar melalui situs jejaring sosial atau pesan singkat telepon seluler. Berinisiatiflah. Dengan begitu para sahabat merasa Anda tidak melupakannya dan ingin terus membina hubungan.



Menjadi kolega yang dapat diandalkan
Keluarga, pasangan, dan sahabat mungkin saja merupakan orang terdekat kita secara pribadi. Namun, rekan kerja dan atasan di tempat kerjalah orang - orang yang setiap hari berada di sekitar Anda, berinteraksi dengan Anda selama nyaris belasan jam sehari dan 5 - 6 hari seminggu. Dengan intensitas waktu dan interaksi sebesar itu, sudah sewajarnya bila Anda berinisiatif untuk menjadi rekan kerja atau atasan yang baik dengan menciptakan hubungan yang berkualitas. 
  • Perlakukan seluruh kolega dan pekerja kantor dengan setara. Meskipun level atau wewenang Anda lebih tinggi sebagai pimpinan, hal itu bukan alasan untuk merendahkan bawahan. Ingatlah bahwa pekerja - pekerja itu setiap hari datang berkontribusi bagi perusahaan Anda. Dengan menghargai mereka, Anda pun mendapat penghargaan yang sama. Dan ketulusan dari semua pihak akan menciptakan suasana kantor yang kondusif dan keberhasilan perusahaan. 
  • Selesaikan konflik dengan segera. Saat ada konflik atau politik kantor yang terjadi dan melibatkan Anda, segera selesaikan. Membiarkan konflik sampai berlarut - larut hanya akan melemahkan hubungan Anda dengan kolega, bawahan, atau atasan. Susun sebuah rencana strategis untuk meluruskan permasalahan dengan seluruh pihak - pihak yang terkait, agar selesai dengan cepat dan tidak mempengaruhi profesionalitas kerja. 
  • Ciptakan jarak yang jelas. Hubungan yang dekat dengan rekan kerja adalah suatu hal yang alamiah. Namun, tegaskan garis batas antara teman dan rekan kerja, agar persahabatan tidak tercampur dengan profesionalitas kerja sehingga menciptakan konflik kepentingan. Ingatlah bahwa Anda di kantor untuk bekerja, bukan untuk bersosialisasi. Jangan mudah terseret oleh politik atau gosip kantor yang berpotensi merusak kualitas hubungan Anda dengan orang di kantor.


Menjadi orang tua yang berhasil 
Hubungan paling mendasar dalam hidup manusia adalah hubungan berkeluarga, terutama dengan anak. Saat anak masih kecil, segalanya terasa sederhana, karena mereka masih dalam asuhan kita dan belum bisa berpikir untuk diri sendiri. Namun saat beranjak dewasa, terutama saat mereka sudah berkeluarga, anak terasa jauh sehingga menjadi tantangan tersendiri untuk mempertahankan hubungan yang berkualitas dengan mereka. Kuncinya adalah menghargai mereka sebagai orang dewasa dan mendukung mereka dengan cara:
  • Menghargai kehidupan yang mereka pilih. Anak adalah manusia tersendiri yang memiliki jalan dan cara hidup sendiri. Beberapa mungkin sejalan dengan pandangan Anda, namun seringkali cara hidup mereka di luar batas pemahaman Anda. Sebagai orang tua Anda tentu merasa bahwa pengalaman hidup telah memberikan keberhasilan. Tapi ingatlah bahwa keberhasilan Anda belum tentu merupakan prestasi yang ingin mereka miliki. Anak punya mimpi dan prestasi yang berbeda - beda. 
  • Raih anak dengan komunikasi. Ketika Anda dan sebagian besar orang tua masa kini dibesarkan, proses komunikasi yang kita terima adalah komunikasi yang kaku dan terkadang keras. Bila salah, orang tua tidak segan - segan untuk mengkritik dan memerintah kita untuk mengambil jalan yang berbeda. Model komunikasi ini mungkin berhasil jaman dahulu, tapi tidak di masa sekarang. Mereka lebih menginginkan komunikasi timbal balik yang memungkinkan dialog atau diskusi. 
  • Hormati privasi anak. Di saat mereka sedang mengalami konflik atau masalah, jalan terbaik untuk mendukungnya adalah dengan berdiam diri dan melihat dari kejauhan. Tahan diri Anda untuk tidak ikut campur sampai mereka sendiri yang meminta Anda untuk turun tangan. Hormati privasi mereka dengan membiarkan mereka untuk menyelesaikan persoalan mereka dengan kekuatan mereka sendiri. 




taken from : 
Majalah BCA Prioritas Edisi 38/VII/2011

    Jumat, 28 Januari 2011

    The Happiness Within...


    Sepasang suami istri di pertengahan umur 60-an datang ke saya beberapa kali dengan berbagai keluhan. Si Istri, yang lebih khawatir dengan "hipertensi"-nya, menjadi begitu "nerotik" karena takut menjadi stroke.

    Saya, yang biasanya mengawali dengan sejumlah pertanyaan, sekali ini dibabat habis oleh sang nyonya yang tak henti-hentinya bercerita tentang tentang kebosanannya gonta-ganti dokter. Dan, dia semakin ngeri dengan obat-obatan yang diresepkan, namun tak mampu membendung tekanan darahnya yang kian merayap naik. Penglihatannya belakangan ini menjadi kabur serta buram.

    Khusus untuk nyonya satu ini, saya biarkan dia nyerocos pada tiap awal pertemuan. Hingga suatu pagi suaminya tak tahan lagi lalu menyela, "Dok, gimana enggak hipertensi. Lha, dia bawaannya selalu nyolot, mudah tersinggung, dan,..." Sang nyonya memotong tak kalah sewotnya, "Aduh, dok, suami saya memang sudah enggak punya perasaan lagi. Saya sulit menjelaskan apa-apa sama dia, dia juga kerjaanya belain orang lain, bukan istri sendiri,...". Dan, ia pun mulai mewek,...

    Dengan helaan napas panjang, suaminya berkata pelan, "Sejak anak kami meninggal setahun yang lalu, dia memang jadi begini, dok,...". Si istri melolong lebih keras lagi. Saya biarkan dia menghabiskan seperempat boks tisu. Maskaranya hancur berantakan, tentu saja.

    Setelah ia agak mereda, saya bertanya, "Mengapa ibu menangis?". Ini pertanyaan tolol bagi banyak orang, memang. Tapi saya sengaja melakukannya. Ia menjawab di sela-sela isakannya. "Saya kasihan sama anak saya, dok,...Kok, masih muda sudah,...". Bisa ditebak: Ia melolong lagi. Kali ini, saya menempuk-nepuk punggung lenggannya, agar dia menjadi lebih tenang sedikit.

    Pertanyaan kedua saya langsung membuatnya berhenti mewek, "Saya memahami perasaan ibu. Tapi, apakah ibu yakin bahwa yang ibu tangisi adalah dia, bukannya ibu sedang menangisi diri sendiri?"

    Sang suami, yang takut istrinya panik dengan pertanyaan saya, langsung menyela, "Maksud dokter?"

    Saya sedikti menelan ludah dan menarik napas panjang sebelum meneruskan. "Begini,...saya mengerti bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang dicintai. Tapi, setelah satu tahun, dengan semua perjuangan emosi yang dilalui, apakah ibu masih menyesali kematian itu? Apakah buat ibu lebih baik dia tetap ada, sekalipun kondisinya sangat kacau, sekalipun dia barangkali cacat berat? Apakah ibu menyesali bahwa dia pergi meninggalkan ibu - sekalipun ia sekarang berada di tempat yang lebih baik?"

    Mereka berdua tampak berpikir serius dan ketika bola mata sang nyonya bergulir menatap saya, tak saya sia-siakan momen itu - pertanyaan berikutnya barangkali sangat menampar, tapi itu adalah smash bagus pada game point, "Apakah ibu sedang menangisi diri sendiri, menghukum diri sendiri bahkan orang lain dan menjadi marah karena ia pergi meninggalkan ibu?"

    Hari itu saya memberikan sang nyonya dan suaminya pe-er besar yang mereka belum pernah lakukan sebelumnya. Pe-er untuk melihat diri sendiri.

    Seminggu kemudian, tanpa disangka mereka kembali ke tempat saya. Saya agak kaget karena sang nyonya tampil dengan potongan rambut yang berbebda, dandanan yang sangat minimalis, hanya sapuan lembut lisptik dan tanpa maskara (hmm, barangkali dia siap menangis lagi!).

    Namun yang lebih mengangetkan adalah ketika ia tiba-tiba memeluk saya dan mengatakan, "Alhamdulilah," dok, sudah 4 hari ini....Aduh, tensi saya cakep banget...Padahal, tidak minum obat sama sekali,...dan,..." (Wah, mulai lagi - saya pikir - karena dia membetot tisu sekaligus 3 lembar)..."...dan mata saya, kok, mendadak terang....Duh, senangnya,..."

    Ada sesuatu yang merayap lembut dalam dada saya. Perasaan hangat, indah, "invigorating" - yang membuat mata saya ikut berkaca-kaca. Suaminya tersenyum haru (yang naga-naganya mau memeluk saya juga, tapi mikir seribu kali) dan ia berkata, "Pe-er dokter awalnya sulit sekali. Kami berantem, dok, pada hari pertama...Dia tetep nuduh saya tidak punya perasaan seperti dia sebagai ibu,..."

    Sang nyonya seperti biasa memotong (tapi kali ini lebih sumringah), "Enggak berantem-berantem amat, sih,...Tapi memang ternyata saya egois...saya cuman mikirin diri sendiri dan tega-teganya anak saya ninggalin saya...Ternyata, saya yang lebih kejam, ya, dok...Saya, kok, pake dia buat melayani kehausan cinta kasih saya,...Aduhhh, makanya Tuhan ambil dia. Tuhan ternyata tau banget bagaimana mendewasakan saya. Dia jutstru pilih yang paling dekat,... Tapi, ah, dok, saya sekarang malah hembira, karena anak saya dilepaskan dari siksaannya. Saya yakin dia juga melihat mamanya enggak sedih melulu, 'kan, ya..."

    Saya hanya bisa tersenyum menatap keduanya. Memang betul, "penyakit" bisa jadi cetusannya dalam bentuk gangguan fungsional secara fisik. Namun, di balik itu, bila manusia tetap diperlakukan sebagai mahluk yang holistik, maka "penglihatannya pun dicerahkan." Ada sebuah buku bagus yang melihat sisi metafisik penyakit, yang ditulis oleh Louis Hay, seorang praktisi medis yang melakukan banyak sekali penelitian tentang interkoneksi kejiwaan seseorang dan penyakit yang diembannya. Penglihatan buram bagi "dokter biasa" dapat dihakimi sebagai pilihan beberapa jenis kelainan pada mata baik secara fungsional maupun anatomis.

    Namun, aspek lain dari buramnya penglihatan dapat merupakan refleksi spritual yang "menolak melihat dunia apa adanya", "quit to see", "I would rather close my sight to be in my comfort zone...its is too risking to face the reality..."

    Begitu pula bila Anda tidak mampu berbahagia. karena Anda sendirilah yang menolak "to see the happiness within myself". Happy New Year!







    DR. Tan Shot Yen, adalah seorang medical doctor, praktisi energy healing, certified medical hypnotherapist, dan penulis buku Saya Pilih Sehat dan Sembuh, Dari Mekanisasi Sampai Medikalisasi, dan Resep Panjang Umur, Sehat, dan Sembuh.  



    taken from:



    Rabu, 26 Januari 2011

    Burned Biscuit

    When I was a kid, my mom liked to make breakfast food for dinner every now and then. And i remember one night in particular when she had made breakfast after a long hard day at work. On that evening so long ago, my mom placed a plate of eggs, sausage and extremely burned biscuits in front of my dad.


    I remember waiting to see if anyone noticed! Yet all my dad did was reach for his biscuit, smile at my mom and ask me how my day was at school... I don't remember what I told him that night, but I do remember watching him smear butter and jelly on that biscuit and eat every bite!


    When I got up from the table that evening, I remember hearing my mom apologize to my dad for burning the biscuits. And I'll never forget what he said. "Honey, I love burned biscuits." Later that night, I went to kiss daddy goodnite and I asked him if he really liked his biscuits burned. He wrapped me in his arms and said, "Your momma put in a hard day at work today and she's real tired. And besides - a burned biscuit never hurt anyone!"




    Life is full of imperfect things... And imperfect people. I'm not the best at hardly anything, and I forget birthdays and anniversaries just like everyone else. But what I've learned over the years is that learning to accept each other's faults - and choosing to celebrate each other's differences - is one of the most important keys to creating a healthy, growing, and lasting relationship. And that's my prayer for you today.


    That you will learn to take the good, the bad, and the ugly parts of your life and lay them at the feet of God. Because in the end, God is the only One who will able to give you a relationship where a burned biscuit isn't a deal-breaker!


    We could extend this to any relationship. In fact, understanding is the base of any relationship, be it a husband-wife, parent-child, friendship or even at work! "Don't put the key to your happiness in someone else's pocket - keep it in your own."

    Sabtu, 22 Januari 2011

    Renungan Indah - W.S. Rendra


     
    *dapat dari kiriman BBM teman, Renungan Indah - W.S. Rendra, yang dibuat di Rumah Sakit sebelum Beliau meninggal*

    Seringkali aku berkata, 
    Ketika semua orang memuji milikku 

    Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan. 
    Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya 
    Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya 
    Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya 
    Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya 

    Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya? 
    Mengapa Dia menitipkan ini padaku?? 
    Untuk apa Dia menitipkan ini padaku?? 
    Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu? Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?? 

    Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya? 
    Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah? 
    Kusebut itu sebagai ujian? 
    Kusebut itu sebagai petaka? 
    Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita... 

    Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku... 
    Aku ingin lebih banyak harta. 
    Ingin lebih banyak mobil. 
    Lebih banyak popularitas. 
    Kutolak sakit. 
    Kutolak kemiskinan. 
    Seolah-olah semua "derita" adalah hukuman bagiku. 
    Seolah-olah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika. 

    Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku. 
    Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih. 
    Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku" Dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai harapanku. 

    Gusti... Padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah? 

    "Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja." 


    (Puisi terakhir Rendra yang dituliskannya di atas ranjang RS)


    Everyone has its own problem...


    Sahabat, 

    Saat aku loncat dari gedung, 

    Kulihat pasangan yang kutahu saling mencintai di lantai 10 sedang bertengkar dan saling memukul. 

    Kulihat Peter yang biasanya kuat dan tabah sedang menangis di lt. 9. 

    Di lt. 8, Ah Mei memergoki tunangannya sedang bercinta dengan sahabatnya. 

    Di lt. 7 Dani sedang minum obat anti depresi. 

    Di lt. 6 Heng yang pengangguran terus membeli 7 koran untuk mencari lowongan kerja tiap hari. 

    Di lt. 5 Mr. Wong yang sangat dihormati publik sedang mencoba baju dalam istrinya. 

    Di lt. 4 Rose sedang bertengkar hebat dengan pacarnya. 

    Di lt. 3 Pak Tua Ed sedang mengharapkan anak cucunya datang mengunjunginya. 

    Di lt. 2 Lily sedang memandangi foto suaminya yang sudah meninggal 6 bulan lalu. 

    Sebelum aku melompat dari gedung, kupikir aku orang yang paling malang. 

    Sekarang aku sadar bahwa setiap orang punya masalah dan kekhawatirannya sendiri. 
    Setelah kulihat semua itu, aku tersadar bahwa ternyata keadaanku sebenarnya tidak terlalu buruk. 

    Semua orang yang kulihat tadi sekarang sedang melihat aku. 

    Kurasa setelah mereka melihatku sekarang, mungkin mereka merasa bahwa situasi mereka sama sekali tidak buruk. 

    'Be grateful for whoever you are... coz if u compare it to others, you'll be surprised of their secret life."